YAYASAN WIDYA DHARMA HUSADA TANGERANG

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES) WIDYA DHARMA HUSADA

PROGRAM STUDI DIII KEBIDANAN

UJIAN TENGAH SEMESTER (UTS)
KISI-KISI

Informasi Ujian

Mata Kuliah

Komunikasi dalam Praktik Kebidanan

Program Studi

D III Kebidanan

Semester

I (Satu)

Waktu

90 Menit

Dosen Pengampu

1. Bdn. Nurdewi Sulymbona, S.Tr.Keb., M.Keb

2. Putri Handayani Setyaningsih, SST., M.Kes

3. Bdn. Katmini, S.Tr.Keb., M.Keb

Materi Komprehensif

Komunikasi Terapeutik

Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang bertujuan membantu klien mengatasi masalah kesehatan fisik dan emosional. Unsur-unsurnya meliputi Bidan sebagai komunikator, Klien sebagai komunikan, Pesan yang disampaikan, Media/Saluran komunikasi, Umpan balik dari klien, dan Lingkungan yang mendukung. Komunikasi ini harus dilakukan dengan empati, penerimaan tanpa syarat, dan kejujuran untuk membangun hubungan saling percaya.

Konseling Kebidanan

Konseling adalah proses komunikasi terapeutik yang sistematis antara bidan dengan klien untuk membantu klien membuat keputusan atas masalah kesehatan yang dihadapi. Proses ini meliputi tahap pembinaan hubungan, mengidentifikasi masalah, eksplorasi alternatif, pengambilan keputusan, dan evaluasi. Bidan harus bersikap netral, tidak menghakimi, dan menghormati otonomi klien dalam menentukan pilihan.

Komunikasi Verbal

Komunikasi verbal meliputi penggunaan kata-kata baik lisan maupun tulisan untuk menyampaikan informasi kesehatan. Dalam praktik kebidanan, komunikasi verbal harus jelas, sederhana, dan mudah dipahami klien. Teknik-teknik efektif meliputi penggunaan bahasa yang sesuai tingkat pendidikan klien, menghindari istilah medis yang sulit, dan memastikan pemahaman melalui teknik clarifying dan konfirmasi.

Komunikasi Non Verbal

Komunikasi non verbal mencakup semua pesan yang disampaikan tanpa kata-kata, termasuk ekspresi wajah, kontak mata, gerakan tubuh, postur, sentuhan terapeutik, dan intonasi suara. Komponen ini sering lebih berpengaruh daripada kata-kata dalam membangun hubungan terapeutik. Bidan harus menyadari bahasa tubuhnya dan memperhatikan isyarat non verbal klien untuk memahami perasaan yang tidak diungkapkan.

Komunikasi Interpersonal

Komunikasi interpersonal adalah interaksi langsung antara bidan dan klien yang bertujuan membangun hubungan saling percaya dan memfasilitasi pertukaran informasi. Keunggulannya termasuk kemampuan membaca reaksi langsung, fleksibilitas dalam menyesuaikan pendekatan, dan efektivitas dalam membahas topik sensitif. Namun memiliki keterbatasan jarak dan memerlukan waktu serta komitmen dari kedua belah pihak.

Komunikasi Massa

Komunikasi massa dalam kebidanan digunakan untuk menyampaikan pesan kesehatan ke audiens luas melalui media seperti radio, TV, internet, media sosial, dan materi cetak. Efektif untuk kampanye kesehatan masyarakat seperti imunisasi, ASI eksklusif, atau deteksi dini kanker serviks. Kelebihannya mencakup jangkauan luas dan efisiensi biaya, namun kurang personal dan sulit memastikan pemahaman individu.

Peran Komunikator

Sebagai komunikator, bidan bertanggung jawab menyampaikan informasi kesehatan secara akurat, jelas, dan tepat waktu. Tugasnya meliputi mengidentifikasi kebutuhan informasi klien, menyusun pesan yang sesuai, memilih metode penyampaian yang efektif, dan memastikan pemahaman klien. Komunikator yang efektif harus memiliki keterampilan menyederhanakan informasi kompleks dan menyesuaikan gaya komunikasi dengan karakteristik klien.

Peran Komunikan

Komunikan dalam konteks kebidanan adalah penerima pesan yang bisa berupa ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas, bayi, keluarga, atau masyarakat. Peran aktif komunikan meliputi memberikan perhatian, mengajukan pertanyaan untuk klarifikasi, memberikan umpan balik, dan menerapkan informasi yang diterima. Bidan harus memfasilitasi peran aktif komunikan melalui komunikasi dua arah yang seimbang.

Struktur Pesan

Pesan dalam komunikasi kebidanan harus terstruktur dengan jelas: pembukaan untuk membangun hubungan, isi untuk menyampaikan informasi utama, dan penutup untuk rekapitulasi dan rencana tindak lanjut. Pesan efektif harus spesifik, relevan, dan dapat ditindaklanjuti. Konten pesan meliputi informasi kesehatan, instruksi perawatan, edukasi preventif, dan dukungan emosional yang disesuaikan dengan kebutuhan klien.

Umpan Balik Efektif

Umpan balik adalah respon klien terhadap pesan yang disampaikan bidan. Umpan balik verbal meliputi pertanyaan, konfirmasi pemahaman, atau ekspresi perasaan. Non verbal meliputi ekspresi wajah, postur, dan kontak mata. Bidan harus secara aktif mencari umpan balik untuk memastikan pemahaman klien, mengidentifikasi kesalahpahaman, dan menyesuaikan strategi komunikasi sesuai kebutuhan.

Keterampilan Observasi

Observasi adalah keterampilan fundamental yang meliputi pengamatan sistematis terhadap tanda-tanda vital, perilaku non verbal, ekspresi emosi, dan perubahan kondisi klien. Observasi objektif memerlukan pemisahan antara fakta dan interpretasi pribadi. Dokumentasi temuan observasi harus akurat, lengkap, dan menggunakan terminologi standar untuk memastikan kontinuitas perawatan dan komunikasi efektif dengan tim kesehatan lain.

Seni Mendengar Aktif

Mendengar aktif adalah proses mendengar dengan penuh perhatian, pemahaman, dan empati. Tekniknya meliputi fokus penuh pada pembicara, tidak menyela, menggunakan isyarat non verbal untuk menunjukkan perhatian, meringkas pesan klien, dan memberikan respon yang tepat. Mendengar aktif membantu bidan memahami kebutuhan nyata klien, membangun trust, dan mengidentifikasi masalah yang mungkin tidak diungkapkan secara langsung.

Teknik Bertanya Efektif

Pertanyaan terbuka mengundang elaborasi dan pemahaman mendalam, sedangkan pertanyaan tertutup efektif untuk mengonfirmasi informasi spesifik. Pertanyaan mengarahkan harus dihindari dalam konseling karena membatasi otonomi klien. Pertanyaan mendalam membantu eksplorasi perasaan dan pemikiran underlying. Pemilihan jenis pertanyaan harus disesuaikan dengan tujuan komunikasi dan tahapan proses konseling.

Membina Hubungan Terapeutik

Hubungan terapeutik dibangun melalui konsistensi, kejujuran, dan respect mutlak. Tekniknya termasuk menggunakan nama klien, menjaga kontak mata appropriat, menunjukkan empati genuine, menghormati privasi, dan menjaga batasan profesional. Hubungan yang kuat meningkatkan kepatuhan treatment, disklosur informasi, dan kepuasan klien. Bidan harus secara sadar mengembangkan dan memelihara hubungan ini sepanjang proses perawatan.

Teknik Clarifying

Clarifying adalah teknik memperjelas pesan untuk memastikan pemahaman yang akurat antara bidan dan klien. Frasa yang umum digunakan termasuk "Apakah yang saya maksud adalah...", "Bisakah Anda menjelaskan lebih detail tentang...", atau "Jika saya理解 benar, Anda merasa...". Teknik ini penting untuk mencegah misinterpretasi yang dapat berdampak pada kepatuhan treatment dan keamanan pasien.

Atribut Konselor Efektif

Konselor efektif memiliki empati untuk memahami perspektif klien, respect tanpa syarat terhadap nilai-nilai klien, genuineness dalam interaksi, warmth untuk menciptakan suasana nyaman, dan self-awareness untuk memahami bias pribadi. Selain itu, konselor harus memiliki patience, non-judgmental attitude, cultural competence, dan kemampuan mempertahankan batasan profesional sambil tetap menunjukkan kepedulian tulus.

Etika Komunikasi Kebidanan

Prinsip etika meliputi confidentiality (menjaga kerahasiaan informasi), informed consent (memastikan pemahaman sebelum tindakan), truthfulness (kejujuran dalam komunikasi), respect for autonomy (menghormati keputusan klien), beneficence (bertindak untuk kebaikan klien), dan non-maleficence (tidak membahayakan). Pelanggaran etika dapat merusak trust dan memiliki konsekuensi hukum serta profesional.

Teori Johari Window

Model Johari Window membantu pemahaman diri melalui empat kuadran: Open (diketahui diri dan orang lain), Blind (tidak diketahui diri tapi diketahui orang lain), Hidden (diketahui diri tapi tidak orang lain), dan Unknown (tidak diketahui keduanya). Dalam konseling, expanding area open melalui feedback dan self-disclosure yang tepat dapat meningkatkan efektivitas komunikasi dan hubungan terapeutik.

Landasan Psikologis

Teori Psikodinamika membantu memahami pengaruh unconscious motives dan childhood experiences. Behaviorisme fokus pada bagaimana lingkungan shape perilaku melalui reinforcement. Humanistic menekankan potensi pertumbuhan individu dan self-actualization. Pemahaman这些 teori membantu bidan mengidentifikasi akar masalah klien dan merancang intervensi yang sesuai dengan karakteristik psikologis individu.

Hambatan Komunikasi

Hambatan individual meliputi faktor ekonomi, tingkat pendidikan, nilai budaya, dan status emosional. Hambatan interpersonal termasuk perbedaan persepsi, prejudice, dan lack of trust. Hambatan situasional meliputi noise, privasi terbatas, dan waktu yang tidak mencukupi. Hambatan semantik terjadi akibat perbedaan interpretasi bahasa. Identifikasi dan manajemen hambatan ini krusial untuk komunikasi efektif.

Mengenali Distress

Tanda-tanda ketegangan emosional meliputi perubahan bicara (terlalu lambat/cepat), tremor pada ekstremitas, mulut kering, keringat dingin, perubahan warna kulit, pupil dilatasi, dan perubahan pola pernapasan. Pengenalan early signs ini memungkinkan bidan untuk intervensi tepat waktu dengan teknik relaksasi, reassurance, atau modifikasi pendekatan komunikasi untuk mengurangi anxiety klien.

Teknik Bertanya dalam Konseling

Pertanyaan Mengarahkan

Pertanyaan yang secara subtle atau eksplisit mempengaruhi klien untuk memberikan jawaban yang diharapkan. Meskipun terkadang berguna dalam situasi tertentu, umumnya dihindari dalam konseling karena dapat mengurangi otonomi klien dan menghambat eksplorasi perasaan genuine.

Contoh: "Ibu sudah rutin memeriksakan kehamilan, kan?" → Jawaban cenderung "ya" karena pertanyaan mengarah ke respons positif.

Pertanyaan Terbuka

Pertanyaan yang memungkinkan klien menjelaskan secara luas tentang pengalaman, perasaan, atau pemikiran. Efektif untuk memulai konseling, menggali informasi mendalam, dan mendorong refleksi diri. Dimulai dengan kata "Bagaimana", "Apa", "Jelaskan tentang", atau "Ceritakan lebih detail".

Contoh: "Bagaimana perasaan Ibu menghadapi persalinan pertama?" → Memberikan ruang untuk ekspresi lengkap tanpa batasan.

Pertanyaan Tertutup

Pertanyaan yang membatasi jawaban pada pilihan terbatas seperti "ya/tidak" atau informasi spesifik. Berguna untuk mengonfirmasi fakta, mengumpulkan data medis secara sistematis, atau saat waktu terbatas. Namun berlebihan dapat membuat interaksi terasa seperti interogasi.

Contoh: "Apakah Ibu sudah merasakan gerakan janin hari ini?" → Jawaban spesifik "ya" atau "tidak".

Pertanyaan Mendalam

Pertanyaan lanjutan yang menggali lebih dalam tentang topik yang telah disebutkan klien. Membantu eksplorasi underlying feelings, beliefs, atau concerns. Sering dimulai dengan "Mengapa hal itu penting bagi Anda?", "Apa arti ini bagi Anda?", atau "Bisakah kita jelajahi lebih lanjut tentang...".

Contoh: "Ibu menyebutkan takut proses persalinan. Apa aspek yang paling membuat Ibu cemas?" → Mengidentifikasi specific concerns untuk intervensi tepat sasaran.

Quiz Interaktif

0/50
00:00

Uji Pemahaman Anda

Tingkatkan pemahaman materi Komunikasi dalam Praktik Kebidanan melalui quiz interaktif ini. Jawab 50 pertanyaan pilihan ganda yang dirancang untuk menguji kompetensi Anda. Setiap jawaban akan disertai penjelasan komprehensif untuk memperdalam pemahaman.

Hasil Evaluasi

0
dari 50 pertanyaan